
Sepertinya wake up call itu memang perlu dan akan membutuhkan pengorbanan. Biaya, waktu dan yang terutama, niat. Dan bagaimana ketiga komponen tersebut bisa terwujud adalah dengan mengandalkan insting kita. Sesuatu yang terbentuk dari pengalaman dan kejadian di masa lalu tanpa harus terikat dengan waktu. Seperti insting seekor anjing yang akan menghampiri, mengendus dan mengangkat kakinya untuk memberi “tanda” ke tiang air pemadam. Semua anjing akan otomatis mengerti bahwa itu adalah hal yang tidak hanya wajar melainkan perlu untuk dilakukan.
45 tahun terasa berjalan begitu saja dalam hidup saya , dan entah ini hal yang baik atau memprihatinkan, tapi saya selalu merasa “baru memulai” tapi sudah “berhutang”. Saya selalu cemas apakah saya sudah berbuat sesuai dengan ekspektasi atau saya tertinggal, atau sebenarnya saya sudah berada pada jalur dan waktu yang sesuai dengan tujuan saya hidup di dunia ini. Bukankah kita semua mempertanyakann hal yang sama, untuk apa kita hidup?

Jadilah kita ini seperti seorang peniup terompet yang berjalan di jalurnya dan disaksikan orang – orang, yang sebenarnya bukan sedang melihat diri kita sebagai pertunjukan, melainkan sebagai simbol dan pengingat bahwa kita semua sedang berusaha menjadi benar. Kita ini sebenarnya pengingat bagi orang lain. Kita ini sebenarnya dan seharusnya menjadi pengingat bagi satu sama lain. Setidaknya bagi saya.

Tetapi juga, sebenarnya siapa yang mengerti apa yang benar dan apa yang salah? Kita dipakaikan aturan dan norma seolah – olah ada yang benar dan ada yang salah. Namun pada akhirnya kita akan selalu berdebat dengan apa yang kita inginkan berbanding dengan apa yang masyarakat anggap baik dan benar.

Kita semua berangan – angan tentang kehidupan layak. Tentang upah dari hidup yang sesuai dengan aturan dan norma. Senantiasa membayangkan “surga” dan “istana” di kehidupan abadi setelah kita selesai di dunia fana. Sebuah konsep bahwa kesadaran tidak akan pernah meninggalkan kita, melainkan terus berkelanjutan, lengkap dengan tata bangunan dan fasilitas yang serba sempurna.

Tapi untuk sekarang ini, baiknya kita sadari bahwa kita masih harus hidup berhimpitan dan berbagi dengan segala macam ego manusia yang tidak ada habisnya.

Drama, intrik persaingan, ingin menang, dan berusaha menikmati kondisi apapun senyaman mungkin. Terkadang kita akan menjadi tontonan, dan sangat sering kita pun menjadi penonton. Lagi – lagi kita ini sebenarnya sedang menjadi pemain dalam sebuah laga yang terjadi karena semua orang ingin menjadi pemenang dan membawa pulang hasil kemenangan tersebut ke dalam mimpi mereka.

Menang tidaklah mudah. Jika mudah, tentu kita tidak merasakan kemenangan tersebut. Tapi menang tidak harus sulit. Jika sulit, kita sudah kalah dengan diri kita yang membiarkan sesuatu jadi sulit dan tidak terjangkau. Bukan sulit , melainkan butuh perhatian, waktu dan pengorbanan.

Kita akan terlena dengan doa dan harapan kita. Tak akan lari gunung dikejar, tapi lantas kita lupa gunung itu pun tidak akan menghampiri kita. Terkadang “tidur” itu berarti lupa bergerak. Kita terus berharap, berdoa, berpasrah dan sabar. Semua ada waktunya. Tapi ibarat sebuah permainan catur. Waktunya bergerak, maka bergeraklah. Resiko selalu ada.

Sesungguhnya jadi menyenangkan bukan? Kita jadi berdiskusi, belajar, bertukar pikiran, berstrategi dan akhirnya berevaluasi untuk berevolusi. Menjadi manusia yang nyaman dengan rasa kemenangan. Menjadi pengamat yang cerdas akan apa yang terjadi di sekeliling kita. Menjadi sadar akan apa yang penting dan apa yang belum penting.

Hidup terus berjalan. Hidup terus hidup dan kita berjalan bersama. Kita sedang berbaris menuju hal yang sama. Kita sedang menghargai segala hal yang bermakna bagi kita semua. Saya sedang berada di barisan itu.

Salah satu kegemaran kita selagi hidup, adalah duduk menikmati suasana yang lalu lalang di depan kita. Kita menjadi penonton. Kita terhubung satu sama lain berdasarkan tempat dan waktu, tapi kita tidak perlu terhubung dengan masalah mereka. Dan sejenak kita pun melupakan masalah kita. Kita lalu terbuai dengan masalah kita, dengan hal – hal yang salah di kepala kita. Dan akhirnya kita akan lelah dan tiba – tiba kita sudah tidak lagi merasa perlu untuk mengejar apapun. Kita kembali tertidur.

Awal pergantian tahun 2024, tidak lama setelah melewati juga perayaan tahun naga, akhirnya saya menumbuhkan niat untuk kembali bangun.

Saya terbangun lagi. Semua masih bisa berjalan walaupun tidak seperti dahulu. Tapi saya juga mengakui bahwa bukan fisik yang menghalangi. Semua terhalang oleh keraguan dan kenyamanan untuk diam dan bertahan. Namun diam bukan berarti nyaman karena pikiran terus menerus bertanya tanpa jawaban. Saya terbangun untuk bergerak, kembali menjadi manusia yang berbaris untuk merayakan kehidupan, walaupun bisa jadi saya akhirnya harus berjalan sendirian.

Tapi setidaknya dengan kembali berjalan, apalagi di tempat yang baru dan penuh kisah, saya akan merasa kembali hidup. Mudah – mudahan saya masih sanggup membaginya untuk yang membutuhkan. Setidaknya diri ini jadi terasa lebih menyenangkan daripada tidur.

Leave a comment