From A City Boy to Real Human in Bali

Pengakuan Dosa, Berbagi Hukum Tentang Hidup


Tidak ada istilah Atur Ulang selama kita tidak mampu mengulangnya.

Hari ini aku memulai hari dengan mengulang – ulang hal penting yang harus aku pikirkan, utamakan, lakukan, dan selesaikan. Tidak banyak, karena sudah aku sederhanakan menjadi hal penting dan ringkas dan selalu harus aku bawa – bawa dalam pikiran. Tidak berarti semuanya aku lakukan dalam hari yang sama, tapi setidaknya aku harus selalu memikirkannya sehingga aku ingat bahwa ada atau akan ada kemajuan dari hal – hal tersebut, dan akan ada kata selesai.

Aku memutuskan untuk mengerjakan proyek decluttering (proyek sortir barang di rumah, dan termasuk menuju gaya hidup minimalis). Proyek ini sebenarnya sudah sangat berlangsung lama, dan kalau boleh jujur kemajuannya sangat menyedihkan. Namun sejak aku terikat dengan menulis, akhirnya aku bisa mengatakan bahwa proyek ini sepertinya mengalami kemajuan yang bagus.

Ijinkan aku membagi “kemajuan” tersebut di tulisan ini.

Sebagai latar belakang, tepat sebelum pandemi, aku memutuskan menyewa rumah kedua, tepat bersebelahan dengan rumah sewa yang sudah aku tinggali selama kurang lebih 5 tahun di Bali. Tujuannya, rumah ke dua tersebut aku jadikan sebagai tempat kerja semacam studio sehingga aku bisa hidup dengan lebih lega di rumah yang tujuannya benar – benar hanya untuk tempat tinggal saja. Boleh dikatakan saat itu terjadi, kehidupanku secara ekonomi memang sedang bagus dan mampu untuk melakukan hal tersebut. Alhasil aku menambah barang untuk kebutuhan yang lebih “lebar”.

Namun kemudian pandemi menyerang. Aku kemudian mengundurkan diri dari tempat kerja, dan alhasil aku mengalami pengurangan pemasukan. Hingga akhirnya sewa rumah ke dua tidak aku lanjutkan. Namun pemilik rumah bersimpati membiarkan aku mengisi tempat tersebut semasa pandemi.

Setahun yang lalu pandemi berakhir, dan akhirnya Bali kembali normal. Kehidupan ekonomi sudah bisa dikatakan pulih (walaupun sedikit gila, akan aku ceritakan di tulisan lain). Aku pun mengalami perubahan hidup drastis. Aku bekerja sebagai DJ. Aku tidak lagi bekerja sebagai videografer maupun fotografer. Semuanya jadi fokus ke DJ. Jadi singkatnya, rumah ke dua hanya berfungsi menampung barang. Barang tersebut sangat berharga, tidak mungkin dibuang. Karena aku percaya aku pasti akan kembali ke barang – barang yang sebelumnya menjadi alat utama penghasilanku.

Dengan kembalinya Bali, sang pemilik rumah ke dua akhirnya memutuskan akan kembali menyewakan rumahnya, tapi aku merasa tidak berkecukupan untuk kembali menyewa karena tentu saja penghasilan sebagai DJ tidak cukup. Oleh karena itu aku terpaksa harus mengosongkan rumah ke dua dengan cepat. Jadilah sekarang rumah ku kembali penuh sesak bahkan lebih sesak dari sebelumnya (karena sejak ada rumah ke dua, tentunya aku menambah barang).

Itulah sebabnya proyek menata ulang ini menjadi salah satu prioritas yang harus aku pikirkan dan lakukan secara bertahap. Hari ini menjadi tahap akhir, dimana akhirnya semua barang pindah ke rumah utama. Penuh sesak. Tapi masih ada unsur rapi karena sebelumnya sudah dicicil untuk ditata dan ditempatkan secara teratur berdasarkan fungsi dan kategorinya.

Disinilah aku berpikir dan tersadar, bahwa sebenarnya istilah ATUR ULANG (reset) itu tidak ada. Banyak sekali orang mengatakan , tekan tombol “reset”. Tapi aku sekarang sadar, kita tidak mungkin melakukan atur ulang seperti komputer yang ditekan tombol atur ulang, kemudian semuanya menjadi seperti baru. Semua menjadi kertas kosong dan kita merasa baru dan bersih.

Lalu apa yang ada untuk hidup kita ini ?

Aku kagum (lagi – lagi) dengan bahasa Indonesia yang ternyata berfilsafat secara tidak langsung. Kata Atur Ulang mengandung kata Ulang. Kita tidak bisa semata – mata memulai lembaran baru tanpa memahami bahwa tetap akan ada hal dari masa lalu yang perlu kita ulang dan ulang terus menerus. Kita harus tetap menghadapi masalah di masa lalu, tapi tidak dengan cara yang sama. Tujuannya boleh sama, tapi caranya dibuat baru. Maka tujuannya harus selalu terus diulang dan diulang sehingga kita menjadikan tujuan sebagai hal utama, dan hasrat untuk mencapainya dengan mengulang – ulang tujuan tersebut bersama dengan nafas kita sehari – hari.

Kali ini aku katakan berbeda, karena sejak aku menulis secara rutin, aku juga menyertakan hal – hal rutin lain yang aku tahu akan berfungsi untuk mencapai tujuan – tujuan yang selama ini belum tercapai semata – mata karena aku kurang mengulang – ulang tujuannya di kepala.

Mengulang – ulang, menjadikan tujuan yang sudah dipilih untuk penting diletakan di dalam pikiran sehari – hari. Dan akhirnya proses Atur Ulang ini terjadi dengan pengulangan di kepala, mencicil sedikit – demi sedikit dan menjadi bagian dari kehidupan utama.

Inilah pentingnya untuk selalu bertujuan. Melihat tujuan adalah kunci utama mencapai tujuan itu sendiri.

Aku jadi teringat kisah Florence Chadwick, seorang perenang muda di tahun 1952 hendak memecahkan rekor menyusuri pantai pulau Catalina, laut Pasifik. Saat itu dia sudah berada di air selama 15 jam, tiba – tiba dia menyerah dan minta dinaikan ke kapal penyelamat. Dia mengaku secara fisik sudah tidak sanggup. Namun alangkah terkejutnya dia bahwa ternyata dia menyerah hanya kurang dari setengah mil jarak akhir. Dia bilang, sejak dia kehilangan pandangan terhadap garis akhir, dia menjadi tidak sanggup melanjutkan. Saat itu memang cuaca sangat berkabut.

Melihat tujuan itu penting. Sekalipun kita memulai lembaran baru, namun kita harus terus mengulang – ulang apa yang menjadi tujuan kita. Bahkan ketika kita merasa bahwa kita harus memulai lembaran baru untuk hidup yang lebih baik, kita harus terus mengulang – ulang apa yang sudah menjadi tujuan bagi hidup kita. Sekalipun kita tidak selalu mengerti apa tujuan hidup kita, namun kita juga selalu ingat, bahwa kita lah yang memilih tujuan hidup.

Pilihkan, tentukan, dan terus meneruslah mengulangnya di kepala. Sehingga selebihnya kita akan memiliki semangat untuk terus berjuang meraihnya.



Leave a comment

About Me

Saat blog ini mulai dibuat, saya baru saja memasuki usia 44 tahun. Saya seorang pria penghibur melalui jalur musik. Saya duda, tidak memiliki anak, tinggal bersama 3 ekor anjing. Saya mulai mengalami penurunan fisik, mulai dari mata, pinggang sampai ke nafas. Saya punya banyak penyesalan, dan tidak punya banyak teman maupun uang. Tapi saya punya banyak cita cita, dan blog ini salah satunya.