From A City Boy to Real Human in Bali

Pengakuan Dosa, Berbagi Hukum Tentang Hidup


Menikmati Hidup dengan cara Terhubung terhadap diri sendiri.

Masih adakah yang ingat seperti apakah menjadi orang yang terhubung dengan diri sendiri?

Aku mencoba membayangkan sebuah skenario di kepala, tentang bagaimana melihat diri sendiri ini menjalani kehidupan seperti apa yang aku mimpikan. Apakah kita selalu bermimpi tentang hal yang sama? Apakah kita sebenarnya melihat gambar di majalah yang sama kemudian berpikir, hey aku ingin hidup seperti itu. Atau bisa juga kita sebenarnya melihat gambar yang berbeda. Tapi intinya, kita sama – sama memilih gambar apa yang kita suka dari sebuah majalah, film atau gambar di sosial media.

Gambar – gambar tersebut disediakan oleh orang – orang yang mampu bercerita tentang kehidupan mereka dari sudut kamera tertentu. Gambaran tersebut akan memanggil pikiran dan hati kita untuk terhubung dengan apa yang kita inginkan.

Tapi kemudian , bisakah kemudian kita terhubung dengan diri kita dan perasaan kita ketika kemudian kita berhasil menjadi sama seperti gambar – gambar yang kita jadikan target untuk kita capai?

Aku jadi terpikir dan tersadar. Kita ingin menjadi sesuatu dari mata orang ketiga. Kita jadi ingin terlihat demikian, bukan menjadi demikian. Bisa jadi kita ini sibuk menjadi gambar bagi orang lain. Kita lupa bahwa ada hal lain yang lebih penting daripada mencapai gambar yang sama seperti yang kita inginkan. Bahwa kita harus senantiasa terhubung dengan diri sendiri. Dan ketika kita terhubung dengan diri sendiri, kita tidak melihat diri kita sama seperti gambar yang kita ingin jadikan sebagai kehidupan kita. Kita tidak akan menjadi mata ketiga dari diri kita sendiri. Kalaupun iya, tentunya kita akan berpendapat. Apakah saya cukup keren? Apakah baju saya sama bagus dengan yang di gambar – gambar itu? Apakah saya akan mendapat apresiasi dari orang – orang yang nanti melihat pemandangan ini? Apakah saya akan diterima dan disukai orang – orang yang melihat saya seperti ini?

Lantas dimana ruang kita untuk merasakan apa yang sebenarnya sudah tercapai maupun yang belum tercapai?

Dimana rasa itu?

Apakah yang sebenarnya kita kejar selama ini?

Aku ingin kembali lagi ke masa melihat – lihat “majalah” tersebut. Aku ingin kemudian menghubungkan dengan apa yang aku rasakan jika aku adalah gambar – gambar tersebut. Sudah layak kah aku merasakan hal – hal tersebut? Sudahkah aku terhubung antara apa yang aku rasakan sekarang dengan apa yang dulu menjadi cita – cita dari mataku sebagai mata orang ketiga.

Awal tulisan aku mengalami suasana naik turun. Aku memang sedang merasa tidak enak badan. Aku memutuskan untuk beristirahat seharian hingga akhirnya nanti waktunya siap – siap bekerja. Dari sisa waktu ini aku menyempatkan dan memaksa sebuah tulisan harus lahir lagi. Karena apa?

Karena aku ingin kembali senantiasa merasa terhubung dengan diri sendiri.

Semua gambaran yang aku senantiasa impikan, bukanlah tentang gambar, melainkan tentang perasaan. Ketika aku jatuh cinta melihat gambar pemandangan, adalah bukan untuk aku kesana membuat gambar pemandangan yang sama seperti gambar itu, lalu membagikan pada khalayak sehingga menjadi sebuah informasi bagi semua orang bahwa aku berhasil mencapai tempat tersebut. Melainkan aku kesana untuk merasakan. Gambar itu mengundangku untuk merasakan sesuatu. Dan ketika aku disana, aku harus ingat bahwa ini semua adalah untuk tujuan merasakan hubungan diri ini dengan tujuan yang aku capai.

Gambar yang kita suka, adalah petunjuk tentang rasa yang ingin kita capai. Dan ketika kita sudah mencapai perasaan tersebut, maka sejujurnya kita sedang terhubung dengan diri kita sendiri, dan kita sedang menikmatinya.

Ada perasaan jungkir balik ketika aku memberikan tekanan terhadap diri ini untuk tetap menulis , bahkan satu tulisan setiap hari. Aku kemudian merasa uring – uringan. Aku bahkan mulai berdebat dengan diri ini, kenapa dan untuk apa aku melakukan semua ini. Kendati aku masih bisa menang dengan mengatakan bahwa ini semua adalah untuk melatih otot – otot kesadaran yang aku butuhkan jika aku ingin mencapai cita – cita sebagai penulis maupun seorang sutradara yang setidaknya aku sendiri menghargai. Ini adalah latihan otot terhadap perasaan jika aku benar – benar sanggup menata pikiran dan mencapai gambar – gambar yang sudah aku kumpulkan sejak masa kecil. Ini adalah sebuah afirmasi bahwa perasaan itu nyata, dan jika perlu kita tuangkan dalam tulisan. Semua perasaan yang terhubung dengan diri sendiri, dan semua yang ternyata juga terhubung dengan potongan gambar – gambar yang kita ingin capai dan tercapai.



Leave a comment

About Me

Saat blog ini mulai dibuat, saya baru saja memasuki usia 44 tahun. Saya seorang pria penghibur melalui jalur musik. Saya duda, tidak memiliki anak, tinggal bersama 3 ekor anjing. Saya mulai mengalami penurunan fisik, mulai dari mata, pinggang sampai ke nafas. Saya punya banyak penyesalan, dan tidak punya banyak teman maupun uang. Tapi saya punya banyak cita cita, dan blog ini salah satunya.