
Sekitar tahun 2003 aku pernah terlibat dengan sebuah pameran, dimana semua pelaku maupun penyelenggara melakukan ini sebagai bentuk apresiasi seni. Mereka dan aku termasuk adalah relawan. Kita semua berasal dari generasi yang berbeda – beda, latar belakang berbeda dan kepentingan berbeda. Menjadikan karakter kita pun sangat beragam. Tugas dan tanggung jawab kita disesuaikan dengan kebutuhan dan kesanggupan masing – masing.
Pada akhirnya tidak ada yang sempurna. Ada masalah dan tentu ada saja drama tapi pada akhirnya acara berjalan sukses dan kita semua mengakhiri dengan rapat evaluasi.
Disitulah kita semua saling memberikan masukan, kritik dan saran. Dari semua masukan dan kritik, ada satu yang hingga saat ini berkesan bagiku. Yaitu ketika salah satu panitia membagikan kisah dia semasa kita bekerja di proyek ini, dia sempat bepergian dengan pesawat. Saat itu dia duduk dan perhatian tertuju pada lembar petunjuk darurat di kursi pesawat. Sambil menunggu lepas landas, ia kemudian mempelajari isi petunjuk tersebut dan terlintas di pikirannya, betapa harus bisa diandalkannya sebuah pesawat untuk bisa memastikan semua penumpang sampai tujuan dengan selamat. Sekali terjadi kesalahan, maka rasa percaya penumpang di masa berikutnya akan sulit diperbaiki. Sebuah posisi yang sangat vital untuk bisa diandalkan, bahkan kondisi darurat pun, segala sesuatunya harus tetap bisa diandalkan dan berfungsi. Alasan mengapa orang ini membagikan cerita tersebut, karena dia bermaksud memberikan penghargaan terhadap salah satu relawan diantara kita, yang memberikan rasa bisa diandalkan, dan betapa itu menjadi kunci keberhasilan tidak hanya acara tersebut, tapi juga keutuhan hubungan kita satu sama lain.
Aku tertegun.
Aku tahu orangnya, dan aku tidak menyangka bahwa dari semua evaluasi terhadap kita satu sama lain, pada akhirnya poin inilah yang paling berkesan dan aku rasa tidak hanya bagiku, tapi bagi semua orang disana waktu itu.
Kita semua menoleh ke orang yang sama tanpa ada yang menyebut siapakah orang yang dimaksud. Kita semua secara alami, setuju dan sepakat, bahwa ada satu orang diantara kita yang berhasil memberikan kekuatan itu terhadap perjalanan acara kita yang sebenarnya jauh dari sempurna.
Satu orang berhasil memberikan rasa bisa diandalkan sehingga kita semua tetap fokus pada tujuan acara kita.
Pemersatu kita terhadap semua hal duniawi, adalah rasa bisa diandalkan.
Dan ini adalah sesuatu yang tidak bisa datang begitu saja. Ini bukan sebuah gerakan genetika maupun bakat. Ini adalah sebuah kebiasaan. Dan ini adalah sebuah kebiasaan yang bermula untuk diri sendiri kemudian melebar ke lingkaran external terdekat, hingga akhirnya skala global.
Bagaimanakah kita bisa menjadi sosok yang bisa diandalkan?
Aku tidak berani menyatakan apa – apa disini tentang bagaimana caranya. Karena aku sendiri merasa jauh dari rasa bisa diandalkan bahkan terhadap diri sendiri.
Bagaimana tidak?
Sudah lebih dari setahun belakangan ini aku terus – menerus merasa ceroboh. Mudah sekali aku terbentur benda – benda disekitar. Mudah sekali aku lupa terhadap apa yang harus aku lakukan. Mudah sekali aku merasa seperti tidak sadar dengan kondisi yang sedang dijalankan. Jadi bagaimana ini bisa disebut sebagai sesuatu yang bisa diandalkan?
Tapi disinilah mengapa akhirnya aku juga memutuskan untuk disiplin menulis. Anggaplah ini sebuah langkah awal, langkah dasar. Kembali ke konsep kesadaran. Bahwa semua hal terjadi karena kesadaran kita akan waktu. Dan dengan banyaknya hal yang sekarang terjadi disekeliling kita, banyak orang termasuk aku jadi “lupa” waktu. Berarti kesadaran menurun. Berarti “otot” kesadaran kita melemah, dan itu bisa jadi berarti kita jadi ceroboh. Dan seterusnya kita menjadi tidak bisa diandalkan, jangankan untuk orang lain, bahkan untuk diri sendiri.
Sebuah papan petunjuk keamanan diselipkan disetiap celah kursi penumpang di pesawat. Sebuah simbol bahwa pengelola menjamin rasa aman, dan mereka ingin menunjukan bahwa mereka bisa diandalkan terutama disaat kita dalam keadaan terancam.
Disitulah aku jadi meyakini, bahwa mengembalikan kesadaran tidaklah singkat dan mudah. Maka jika sudah setahun ini aku menyadari aku ceroboh dan merasa semakin tidak bisa diandalkan, maka langkah setelah sadar adalah berlatih dan membiarkan proses ini bukan tugas semalam. Tidak ada istilah menjadi diandalkan dengan kejar tayang semalam.
Ini butuh waktu. Ini butuh kesadaran. Dan ini berarti latihan dan latihan.
Aku berlatih.
Aku mengandalkan latihan, agar menjadi bisa diandalkan.

Leave a comment