From A City Boy to Real Human in Bali

Pengakuan Dosa, Berbagi Hukum Tentang Hidup


Kain dan Habel adalah Perang Batinmu

Kemarin aku terkesima membaca tulisan buku Jordan B Peterson, 12 Aturan Hidup, bab 7 : Mengejar Hal yang Bermakna. Ada bagian yang menggambarkan tentang pengorbanan.

“Sometimes when things are not going well, it’s not the world that’s the cause. The cause instead that which is currently most valued, subjectively and personally. Why? Because the world is revealed, to an indeterminate degree, through the templates of your values. If the world you are seeing is not the world you want, therefore, it’s time to examine your values. It’s time to rid yourself of current presuppositions. It’s time to let go. It might even time to sacrifice what you love best, so that you can become who you might become, instead of staying who you are.

Ketika banyak hal berjalan tidak baik, bukan berarti dunia yang menjadi penyebabnya, melainkan karena hal – hal yang kita jadikan paling berharga secara subyektif dan personal. Karena dunia terpampang mengikuti cara pandangmu. Jika kamu melihat dunia tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan, berarti tiba waktunya bagi kamu untuk menganalisa apa yang penting bagimu. Waktunya bagi kamu untuk melepaskan nilai – nilai tersebut. Bisa jadi kamu harus mengorbankan hal terpenting dalam hidupmu, sehingga kamu bisa menjadi orang yang kamu inginkan, daripada tetap menjadi diri yang sekarang.

Bicara pengorbanan, Jordan juga mengangkat kisah Alkitab tentang Kain dan Habel, manusia pertama yang dilahirkan dari manusia. Tuhan masih senantiasa menantikan bentuk komunikasi antara ciptaanNya yang memiliki kemampuan berpikir dan berkehendak bebas dengan kuasa Tuhan yang tidak terbatas, yaitu melalui persembahan.

Sebuah simbol tentang pengorbanan terhadap apa yang dianggap paling berharga bagi manusia (saat itu adalah Kain dan Habel) untuk diserahkan kepada Tuhan, sehingga tidak ada yang lebih berharga bagi mereka selain Tuhan. Singkat cerita, persembahan Habel selalu diterima dan dihargai oleh Tuhan, sedangkan persembahan Kain selalu ditolak. Perasaan ditolak dan dibandingkan dengan saudara kandung sendiri ini membuat Kain akhirnya menghabisi nyawa saudara kandungnya sendiri.

Tuhan kemudian mengusir Kain keluar dari Taman Eden. Diberikan kesempatan untuk tetap hidup, namun harus senantiasa berkelana hingga penghujung waktu.

Disaat itulah aku tersadar. Kain dan Habel bisa jadi adalah saudara kandung antara emosi dan pikiran di dalam satu kepala. Aku tidak semata – mata menggambarkan salah satu emosi dan satunya pikiran. Aku justru menyadari dualisme pikiran dan hati kita dalam wujud sosok pendapat yang berbeda, namun sebenarnya saudara satu sama lain di dalam satu jiwa raga kita.

Bahwa selama ini apa yang kita putuskan untuk kita jadikan penyemangat hidup, rasa ingin dihargai, rasa berkorban terhadap cinta dan harta datang dari unsur “Kain dan Habel” dimana keduanya bisa jadi mengalami hasil yang berlawanan dari diri kita sendiri.

Aku ingin berpendapat sekaligus meyakini sebuah konsep. Kain dan Habel adalah kisah bukan untuk ditawar. Ini bukan semacam peringatan, melainkan sebuah rumus. Bahwa akan ada dualisme perasaan dan emosi maupun logika terhadap sesuatu yang ingin kita capai. Bahwa dalam setiap aspek kehidupan akan selalu ada celah yang akhirnya menjadi perang batin di dalam diri kita.

Bukankah terasa aneh ketika Tuhan yang begitu Maha Tahu dan Maha Kuasa, harus mencari dan bertanya kemanakah Habel ketika dirinya tidak lagi muncul dan memberikan persembahan. Tapi tidak terasa aneh jika analogi Tuhan bertanya ini ternyata sebuah perumpamaan terhadap diri kita sendiri yang mempertanyakan ketika rasa bahagia, rasa diterima dan rasa berguna tidak lagi berada di sekitar pikiran kita.

Bukankah cukup sering kita, terutama aku merasakan hilangnya perasasaan nyaman terhadap diri sendiri. Mempertanyakan kemana perginya perasaan itu, dan tergantikan oleh perasaan seperti yang dirasakan oleh Kain.

Rasa iri, rasa bersalah, rasa ingin menghilang dan boleh jadi kita menandai diri kita sendiri sama seperti Tuhan memberi tanda terhadap Kain dan mengusirnya dari semua bentuk nyaman.

Bahwa Kain akan selalu berhadapan dengan rasa penyesalan, dan kesadaran bahwa kesempatan kedua tidaklah sama. Dunia baru akan selalu berbeda untuknya, dan dia harus menanggung rasa bersalah untuk memperbaiki apa yang sudah pernah dia “bunuh” tanpa pengetahuan yang cukup akan masa depannya.

Aku ingin menutup tulisan ini dengan sebuah pemikiran yang sederhana dari konsep yang sangat berat ini.

Kita adalah Kain dan Habel dalam satu kehidupan. Mereka tidak terjadi hanya satu kali, melainkan berkali – kali. Apakah yang berkali – kali terjadi?Pengorbanan. Bahwa semua hal yang ingin kita capai selalu mengandung unsur pengorbanan. Dan resiko dari pengorbanan adalah sanggupkah kita menerima jika pengorbanan kita tidak menghasilkan hal yang kita inginkan.

Sanggupkah kita tetap menjadi utuh ketika pengorbanan tidak mendatangkan hasil yang sepadan. Jika kita terus – menerus mengharapkan sesuatu dari pengorbanan, maka pada akhirnya kita akan membunuh pikiran kita untuk maju. Sebelum kita bisa membunuh saudara kita dalam pikiran yang selalu nyaman dan sukses “diterima” oleh diri kita sendiri, sementara ada pemikiran kita yang merasa ditolak karena tidak pernah merasa cukup untuk sesuatu yang dibayangi rasa kecewa dan iri.

Jika sudah waktunya untuk berubah, maka pengorbanan terbesar adalah melepaskan hal yang paling berharga, demi kemampuan diri ini untuk terpaksa mencoba sesuatu yang baru dan jika ini dilakukan dengan sungguh – sungguh, perubahan pasti terjadi. Sesuai dengan rangkaian yang terjadi terhadap Tuhan kita, atas perbuatan anak manusiaNya yang pertama kali dilahirkan dari manusia ciptaanNya.

Semoga kita tidak perlu terus menerus gagal dalam berkorban. Jika kita merasa terus gagal dalam berkorban, maka pengorbanan yang terbesar adalah menyudahi – membunuh saudara sendiri dalam pemikiran, dan kemudian mulailah perjalanan baru dengan rasa ingin berubah menjadi lebih baik.



Leave a comment

About Me

Saat blog ini mulai dibuat, saya baru saja memasuki usia 44 tahun. Saya seorang pria penghibur melalui jalur musik. Saya duda, tidak memiliki anak, tinggal bersama 3 ekor anjing. Saya mulai mengalami penurunan fisik, mulai dari mata, pinggang sampai ke nafas. Saya punya banyak penyesalan, dan tidak punya banyak teman maupun uang. Tapi saya punya banyak cita cita, dan blog ini salah satunya.