From A City Boy to Real Human in Bali

Pengakuan Dosa, Berbagi Hukum Tentang Hidup


Bikin Aturan Untuk Diri Sendiri sebelum Mengkritik Dunia

Dosa terbesarku mungkin berada pada perasaan nyaman menunda. Duniaku jadi terasa baik – baik saja, segala sesuatu yang tidak terjadi dimaklumi, dan segala yang tidak terjadi semata – mata karena aku menundanya. Dan aku selalu menunda karena perhatianku selalu tertuju pada hal diluar diri sendiri. Terkesan mulia karena selalu memikirkan hal selain diri sendiri. Tapi kemudian aku di”tampar” oleh tulisan dari salah satu idolaku dalam bukunya tentang 12 Aturan Hidup oleh Jordan B Peterson.

Saatnya berhenti mensabotase diri. Mulai sadar pikiran ini harus diarahkan ke diri sendiri. Dulu terasa sulit untuk melakukan sesuatu sesuai keinginan dan kebutuhan diri sendiri, karena ternyata wacananya yang salah.

Perasaan selalu benar.

Pikiran yang bisa jadi salah penterjemahkan. Navigasi pikiran harus dimulai dari aturan yang kita buat untuk diri sendiri. Dan aku ingin mulai melatih dari pikiran yang paling sederhana untuk memahami perasaan.

Apapun yang aku rasakan adalah perasaan tertuju sebagai akibat dari pikiran kita terhadap diri sendiri, bukan terhadap orang lain. Huh?

Cotohnya…

“Aku mencintai dia…”

Terjemahan : Aku memiliki perasaan cinta terhadap seseorang karena hal – hal yang terjadi antara aku dan dia. Tapi aku harus selalu ingat bahwa perasaan adalah buah dari pemikiran aku tentang diri sendiri, bukan karena orang itu yang sedang aku cintai.

Perasaan yang muncul sebagai buah dari pikiranku terhadap diri sendiri, bukan orang yang aku cintai.

Demikian juga dengan perasaan – perasaan lain. Benci, iri, marah, kecewa, sedih, takut, minder, tersinggung, terkucil, kesepian, bahagia, bangga, tertantang, tertutup, termotivasi.

Semua perasaan ini terjadi bukan untuk diatur, tapi untuk disadari, bahwa ini semua adalah buah dari pikiran yang terjadi untuk diri sendiri, bukan orang lain maupun keadaan diluar tubuh.

Berarti, bagaimana mungkin kita akan pernah mampu untuk mengkritik dunia diluar diri sendiri. Jika kita mampu, maka tidak lagi perlu. Karena kemampuan untuk mengkritik dunia luar pastilah setelah kita usai mengatur diri sendiri. Dan ketika kita sudah mampu mengatur diri sendiri, lantas apa perlunya kita mengkritik dunia. Kita bahkan tidak akan merasa perlu mengkritik apapun yang sudah terasa pada tempatnya. Dan semua akan terasa pada tempatnya bila kita mulai dari menyadari bahwa pikiran kita terjadi untuk diri sendiri. Dan buah dari pikiran terhadap diri sendiri adalah perasaan. Perasaan itu nyata bukan untuk dihindari atau diabaikan. Justru harus mendapat perhatian karena kita pada akhirnya akan bergerak dengan perasaan. Hanya dengan begitu kita akan selaras dengan waktu yang kita jalani.

Aku menulis ini sambil menyadari. bahwa selama ini perasaanku adalah hasil terhadap pikiranku. Namun aku tidak mencoba mengatur kemana pikiranku seharusnya digunakan. Sebagian besar pikiranku diberikan untuk orang lain dan hal diluar diri sendiri. Akibatnya perasaanku juga hanya untuk semua hal kecuali diri sendiri. Dan hal yang harusnya aku lakukan untuk diri sendiri malah jadi ditunda – tunda.

Sudah waktunya berubah.

Pikiranku untuk diri sendiri. Pikiranku untuk memikirkan diri. Pikiranku untuk membuat aturan. Menjadi “particular” , menjadi khusus. Memikirkan aturan yang khusus untuk diri sendiri. Dan mengakui perasaan yang timbul dari aturan – aturan itu tersebut sebagai bahan untuk mulai menjalani hidup sebagaimana aku ingin. Tidak perlu menunda sesuatu jika perasaan sudah menanti segalanya terjadi sesuai waktu yang berjalan.



Leave a comment

About Me

Saat blog ini mulai dibuat, saya baru saja memasuki usia 44 tahun. Saya seorang pria penghibur melalui jalur musik. Saya duda, tidak memiliki anak, tinggal bersama 3 ekor anjing. Saya mulai mengalami penurunan fisik, mulai dari mata, pinggang sampai ke nafas. Saya punya banyak penyesalan, dan tidak punya banyak teman maupun uang. Tapi saya punya banyak cita cita, dan blog ini salah satunya.