Sekalipun aku sudah menulis tentang hidup yang semuanya sudah terbentang awal hingga akhir. Tidak ada kata belum dan sudah, kecuali karena kita harus merasakan apa yang sedang terjadi bersamaan dengan keterikatan kita terhadap kesadaran akan waktu. Tetap saja, kita harus tetap kompromi dengan keadaan yang terkadang membuat kita tidak ingin melakukan sesuatu yang sudah kita rencanakan sebelumnya. Seolah – olah kita jadi tergantung terhadap sesuatu diluar kuasa kita.
Bolehkah kita menentukan hari melalui rasa? Abaikan rencana, percayakan pada rasa? Mungkinkah rasa juga memiliki rencana dan navigasi yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Mungkinkah rasa juga bisa menjadikan hidup kita tertata dan sesuai dengan apa yang harus kita tebus hari demi hari?
Mungkinkah rasa juga memiliki rencana? Terhadap siapa dan apakah rasa kita berbicara untuk menentukan akan kemana kita hari ini?
Sebagaimana aku ingin menolak ide ini. Tapi aku juga sedang mencoba mengadili perasaanku terhadap apa yang sudah terjadi. Tentang bagaimana selama ini aku sebenarnya selamat ataupun celaka dari perasaan.
Apakah karena melawan perasaan? Atau karena mengikuti perasaan? Atau karena mendengarkan perasaan?
Aku ingin bisa selaras. Tidak bisa aku menghabiskan hidup hanya untuk terus menerus memaksa otak yang berencana, perasaan yang disuruh mengalah. Aku ingin selaras antara perasaan dan kegiatan. Aku ingin otak setuju bahwa apa yang harus aku lakukan adalah mengikutti perasaan. Dan aku ingin memberikan rasa percaya bahwa perasaanku itu cerdas. Dia tidak semata – mata egois mengikuti apa yang sedang dirasa ingin, tapi juga terhubung dengan data input lewat otak tentang janji – janji apa saja yang harus aku penuhi, dan rutinitas dan ritual apa saja yang sebenarnya sudah aku sepakati untuk jadi bagian dari hidup…. yang sudah terbentang itu.
Aku ingin mulai percaya dan yakin bahwa perasaanku terhubung secara utuh dari awal hingga akhir perjalanan hidupku. Hanya karena ada kesadaran aku waktu, sehingga perasaanku menghormati batas – batas itu sehingga terkadang perasaan itu muncul seolah – olah misteri yang belum terungkap.
Mungkin perasaan inilah yang akhirnya bisa membantu aku menulis mudah – mudahan setiap hari. Aku tidak lagi berpikir tentang tujuan akhir dari tulisan. Aku kini hanya mencoba selaras dengan perasaan, yang aku anggap sudah tahu bahwa pada akhirnya bentangan hidup ku ini akan dipenuhi dengan tulisan – tulisan yang tertuang seiring berjalannya waktu.
Perasaan ini sedang menghormati waktu, sehingga terkesan misteri. Jika tidak karena waktu, sebenarnya semua ini sudah terjadi dan sudah selesai, dan menunggu untuk kembali menjadi belum terjadi.
Tidak ada kata lintas. Semua terbentang. Semua teratur. Hanya tinggal mengikuti perasaan yang menghormati waktu. Dan padahal waktu itu ada karena kesadaran.
Perasaan itu hormat pada kesadaran akan waktu.
Ikuti saja perasaan, yang sudah hormat pada kesadaran.
Waktu akan menjawab semuanya.
Percayakan pada perasaan yang mengatur apa yang harus terjadi.

Leave a comment