Pernah dan sering terpikirkah diri ini dengan perkara apakah kita sudah menjadi diri yang kita inginkan. Apalagi dengan sekarang yang begitu banyak suara digital tentang “menjadi diri sendiri” dari luar. Apakah menjadi diri sendiri itu harus datang dari luar?
Aku lalu berusaha adil terhadap diri sendiri dengan memberikan jawaban ini murni dari diri sendiri. Jawabannya berupa rumus.
Jika kita sudah bisa mencukupi kebutuhan sandang pangan papan, dan kita memiliki waktu cukup untuk istirahat dan merawat tubuh, maka aset terbesar yang harus kita pertahankan adalah postur tubuhmu, pikiranmu, bahasamu dan pertemanan dan keluargamu.
Jika kamu harus menambah sandang pangan papanmu, pastikan tidak mengorbankan sedikitpun aset mu yang sudah kamu pertahankan. Jika kamu harus menambah aset mu, pastikan tidak mengorbankan sandang pangan papanmu.
Itulah DIRI.
Jika kita membangun tembok pemisah antara sandang pangan papan sebagai kebutuhan pokok jasmani, dengan hubungan antara sesama, pola pikir, postur, bahasa tubuh dan bahasa sebagai rohani, maka rumus ini menjadi lebih sederhana. Diri + Waktu = (Jasmani + waktu) + (Rohani + waktu).
Kita semua tahu waktu itu hanya bisa bertambah. Hanya bisa kita rasakan bergerak satu arah secara bersamaan. Hukum yang tidak bisa dirubah karena kesadaran kita. Tidak ada pengurangan dalam hal waktu. Maka keadilan itu berbicara sama terhadap diri kita. Tidak ada yang bisa dikurangi dari jasmani maupun rohani. Mereka pun hanya bisa bertambah.
Yang coba ingin aku katakan pada diri sendiri adalah, jangan menelantarkan. Waktu itu akan terus maju. Jangan menelantarkan diri. Selalu sadar dan jaga untuk utuh. Waktu yang akan menambah apa yang kita perlu untuk jadi diri yang utuh. Kesadaran jangan ditelantarkan.
Jika sedang merasa sedih, maka sedihlah. Jika sedang bertanya, bergembiralah untuk mencari jawabannya. Jika sedang bahagia, maka berbagilah. Jika sedang menderita, percayalah bahwa sesuatu baik jasmani dan rohani tetap bertambah. Jika sesuatu akhirnya harus berakhir atau menuju ke akhir, tetaplah sadar bahwa kita tetap sedang bertambah. Tua adalah hasil dari pertambahan waktu, tapi bijak adalah upah dari kesadaran akan pertambahan diri, baik jasmani maupun rohani yang mengendarai waktu.
Terima kasih waktu. Diri ini begitu berharga jika utuh bersamamu.

Leave a comment