Ini hari pertama aku menjalani proses pemutusan hubungan dengan seseorang yang tidak bisa dibilang mantan.
Seseorang yang sangat berarti namun harus aku hapus dalam perjalanan ke depan.
Seseorang yang rasanya hanya satu satunya seseorang dalam hidup ini.
Seseorang yang tidak ingin aku hadapi (lagi) semenjak isi kepala saat ini hanya ada penyesalan dan rasa takut.
Seseorang yang bisa jadi seharusnya sudah aku tinggalkan tepat setahun yang lalu.
Tapi aku ini terlalu pengecut. Takut sendiri dan merasa hidup tidak ada artinya bila sendiri.
Akhirnya kemaren sore semua alat yang bisa menghubungkan aku dengan dia aku blok. Sosmed, WA semuanya aku rintangi agar aku merasa akulah yang menutup dan mengakhiri. Aku perlu gesture itu. Aku tidak bisa melakukan pembicaraan sepakat dengan ini. Bukan sekedar menjaga jarak ataupun sepakat berakhir. Aku harus menjadi orang yang membanting pintu dan mengganjal pintu itu untuk tertutup. Aku sangat perlu gesture itu. Jika tidak aku merasa lemah. Aku tidak boleh merasa lemah.
Aku tahu bahwa aku sedang lemah. Tapi aku harus punya sesuatu seperti batu yang aku genggam agar aku merasa ada otot yang aku kerahkan agar semua ini terjadi dari kekuatan. Bukan karena sepakat atau bantuan dan pengertian, tapi murni sebuah upaya dan daya.
Dulu mantan istriku pernah memperlihatkan sebuah batu seukuran tangan dia untuk digenggam. Dulu sebelum dia bertemu aku, dia merantau dari sragen ke jakarta, dan dia membawa batu itu dari rumahnya. Dia genggam erat – erat ketika masa sulit sedang melanda, agar dia merasa masih ada kekuatan dari dirinya, setidaknya untuk meremas batu itu. Gesture itu penting. Dia ingat bahwa dia masih memiliki kekuatan. Dia tidak menyerah dan dia survive. Walaupun hatinya mungkin hancur babak belur, walaupun kepalanya sudah tidak ada ide, dan isi perutnya harus bisa tahan hanya dengan isi sebutir kacang pilus perhari sampai bayaran tiba.
Gesture itu perlu.
Tapi jujur strategi ini masih sangat lemah. Aksinya terkesan kuat, tapi strategi ini lemah karena biar bagaimanapun aku masih akan tetap harus kembali berkomunikasi dengan dia.
Masih ada barang dan urusan yang tidak bisa diputus begitu saja. Masih ada lingkaran pertemanan yang tentu saja sebagai sesama orang dewasa, kita tidak bisa begitu saja memutus hubungan.
Putus hubungan itu perlu, tapi ternyata kita tidak bisa melakukan itu dengan sempurna. Salah satu kelemahan manusia yang terkutuk sebagai mahluk sosial. Kita jadi harus belajar toleransi dan toleransi tidak selalu baik bagi sisi individual kita.

Leave a comment